Friday, May 7, 2010

10 Tempat Terbaik dan Terburuk untuk Menjadi Ibu

10 Tempat Terbaik dan Terburuk

untuk Menjadi Ibu

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: sheknows)

Jakarta, Menjadi seorang ibu adalah salah satu momen bahagia bagi wanita, apalagi jika bisa berada di tempat-tempat terbaik untuk menjadi ibu. Tempat mana saja yang terbaik dan terburuk untuk menjadi ibu?


Save the Children Mother melakukan survei dan membandingkan 160 negara di dunia untuk mencari negara mana saja yang dapat peringkat negara terbaik dan terburuk bagi ibu dan anak.

Peringkat tersebut didasarkan pada kesehatan, pendidikan, dan status ekonomi ibu dan anaknya.

Seperti dilansir dari WebMD, Jumat (7/5/2010), berikut 10 negara terbaik untuk menjadi seorang ibu:

  1. Norwegia
  2. Australia
  3. Islandia
  4. Swedia
  5. Denmark
  6. Selandia Baru
  7. Finlandia
  8. Belanda
  9. Belgia
  10. Jerman

Sedangkan 10 negara terburuk untuk menjadi ibu:
  1. Equatorial Guinea
  2. Eritrea
  3. Sudan
  4. Mali
  5. Republik Demokrasi Kongo
  6. Yaman
  7. Guinea-Bissau
  8. Chad
  9. Niger
  10. Afganistan

Mengapa banyak negara di Afrika juga Afganistan menjadi tempat terburuk untuk menjadi ibu? Di Afganistan dan juga negara-negara di Afrika, hanya 15 persen kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, dan satu dari delapan wanita meninggal karena kehamilan atau kelahiran yang terkait dengan masalah anak.

Menurut survei, Amerika Serikat hanya ada di peringkat 28. Angka kematian ibu di Amerika Serikat adalah 1 dari 4.800, serta negara kurang memberi kebijakan bersalin yang bertanggung jawab bagi masyarakat kelas bawah.

Wanita di Amerika Serikat lima kali lebih mungkin meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan kehamilan ketimbang wanita-wanita di Bosnia, Herzegovina, Yunani, atau Italia. Dan 10 kali lebih besar dari wanita di Irlandia.

Amerika Serikat juga dinilai tinggi pada angka kematian anak di bawah usia 5 tahun. Tercatat 8 dari 1.000 anak meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.

"Sementara situasi di Amerika Serikat perlu diperbaiki, ibu-ibu di negara berkembang justru sedang menghadapi risiko yang jauh lebih besar untuk kesehatannya juga anaknya," ujar Mary Beth Powers, kepala Save the Children's Newborn and Child Survival Campaign.

Menurut Beth Powers, kurangnya tenaga pembantu persalinan dan tantangan dalam mengakses alat KB, menyebabkan wanita di negara-negara berkembang menghadapi banyak kehamilan dan kelahiran yang lebih berisiko dan menyebabkan kematian ibu dan anak.

Nah, bagaimana dengan Indonesia?



No comments:

Post a Comment

Anda punya tanggapan mengenai artikel ini?
Silakan isi komentar untuk berbagi ilmu disini :

Search !!!

-- Silakan Masukan Kata --

Rubah Bahasa

English French German Spain Italian

Dutch Portuguese Japanese Arabic Chinese Simplified

Adsense

Blog Archive

Komentar Terbaru!