Wednesday, April 21, 2010

R.A Kartini dan Penyakit Preeklamsia

RA Kartini dan Penyakit Preeklamsia

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
RA Kartini (dok: PPI India)

Jakarta, Lebih dari seabad yang lalu, RA Kartini meninggal karena mengalami komplikasi saat melahirkan anak pertama dan satu-satunya. Salah satu pemicunya adalah preeklamsia, yang hingga kini masih menjadi penyebab utama kematian ibu hamil di samping infeksi dan perdarahan.


Pahlawan nasional asal Jepara tersebut meninggal pada 17 September 1904, di usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun.

Teknologi saat itu mungkin masih sangat terbatas sehingga putri bangsawan yang merayakan ulang tahun yang ke-171 pada hari ini, tidak bisa bertahan menghadapi komplikasi yang dia alami saat melahirkan.

Sungguh ironis jika dibandingkan dengan kondisi zaman sekarang. Ketika teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia terhitung masih cukup tinggi. Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan, AKI tercatat 228 per 100 ribu kelahiran hidup.

Jika dilihat perkembangannya dari tahun 1994 yang masih 390 per 100 ribu kelahiran hidup, memang tampak adanya tren penurunan yang cukup signifikan. Namun sayangnya, angka tersebut masih paling tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia.

Dibandingkan dengan target Milenium Development Goals (MDGs), angka di atas juga masih jauh dari harapan. Target AKI yang harus dicapai pada 2015 adalah mengurangi hingga 3/4 resiko jumlah kematian ibu, yakni menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup.

Preeklampsia penyebab nomor 2 kematian ibu

Masih dari sumber data SDKI, hipertensi selama kehamilan (yang meliputi preeklamsia dan eklamsia) menduduki peringkat kedua penyebab kematian ibu melahirkan di Indonesia yakni 24 persen. Di urutan teratas adalah perdarahan (28 persen), sedangkan di urutan ketiga adalah infeksi (11 persen).

Tekanan darah tinggi dan meningkatnya kadar protein dalam urine yang terjadi selama masa kehamilan merupakan kondisi yang menandai preeklamsia. Kondisi ini sering dialami pada kehamilan trimester 2-3. Jika tidak tertangani, bisa memicu komplikasi yang lebih berat termasuk kejang atau eklamsia.

Gejala yang dirasakan pada preeklamsia antara lain mual-muntah, pusing, dan nyeri di perut terutama di bawah iga sebelah kanan. Ada juga yang mengalami hilang penglihatan sesaat, mata kabur atau menjadi tidak peka terhadap cahaya.

Volume urine yang menyusut juga merupakan tanda-tanda preeklamsia. Selain itu juga terjadi pembengkakan (edema) pada wajah dan tangan, serta kenaikan berat badan yang cepat hingga 9 kg perminggu.

Beberapa kondisi yang rentan mengalami preeklamsia seperti dikutip dari Mayo Clinic, Rabu (21/4/2010) adalah sebagai berikut:

1. Punya riwayat preeklamsia
2. Kehamilan pertama
3. Usia saat hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
4. Obesitas
5. Kehamilan anak kembar
6. Jarak kehamilan yang terlalu jauh
7. Diabetes pada saat hamil
8. Sebelum hamil pernah mengalami hipertensi kronis, migrain, diabetes, penyakit
ginjal, maupun rheumatoid arthritis

Beberapa hal bisa dilakukan untuk mengurangi risiko preeklamsia, di antaranya menjaga berat badan serta diet rendah sodium (garam). Rutin memeriksakan kehamilan juga sangat dianjurkan. Jika terdeteksi lebih awal, preeklamsia akan tertangani dengan lebih baik.

Meski tidak bisa dicegah sepenuhnya, pemberian informasi yang cukup kepada ibu hamil setidaknya bisa meminimalkan dampak lebih buruk dari preeklamsia. Jika ini bisa dilakukan, maka jumlah Kartini-Kartini masa kini yang meninggal karena penyakit tersebut bisa dikurangi.



No comments:

Post a Comment

Anda punya tanggapan mengenai artikel ini?
Silakan isi komentar untuk berbagi ilmu disini :

Search !!!

-- Silakan Masukan Kata --

Rubah Bahasa

English French German Spain Italian

Dutch Portuguese Japanese Arabic Chinese Simplified

Adsense

Blog Archive

Komentar Terbaru!